Engkau cantik dengan wudhu yang membuat wajahmu berseri, engkau cantik dengan senyum yang menghiasi bibirmu yang merona oleh lantunan ayat Alquran, engkau cantik dengan mahkota wanita yang tak mudah dilihat oleh siapapun karena kain kerudung melindunginya, engkau cantik dengan mata yang selalu kau tundukan dari pandangan ikhwan yang merugikan, dan jari lentik yang senantiasa bermain dengan lembaran kitab suci Al-Quran.
Setiap wanita itu dilahirkan cantik, dengan kecantikan yang berbeda dari wanita lain dan hanya kau yang dianugerahinya, namun kau justru seringkali membuat sama jeleknya dengan yang ada pada orang lain. Bibir tipis yang tercipta kau tutupi kealamiannya dengan olesan lipstick yang mengganggu. Mata indah bak permata kau tutupi dengan lensa biru yang palsu.
Wanita mestinya selalu bersyukur dengan apa yang dimiliki karena Alloh Subhanahu wata'ala memberi sesuatu untuknya yang tidak Alloh Subhanahu wata'ala berikan pada wanita lain. Namun mengapa kau ingin menyamakannya dengan yang lain? Tidakkah kau sama saja seperti pembajak yang meniru gaya orang lain, ataukah memang sudah hilang jiwa pemimpinmu untuk membangun rakyat(anggota badan) yang indah dengan pemimpin yang bijak.
Senin, 31 Agustus 2009
PERTEMUANKU DENGAN PARANG TRITIS
Aku termenung untuk berfikir sejenak
Sebentar.. ada bayangan parangtritis yang belum sempurna
Bukan karena katidak indahannya..
Namun karena aku belum mampu mengingatnya..
Ada satu haparan untukku…
Namun aku terbangun dan kembali terucap tanya…
Kapan aku bisa lihat PARIS???
Tak banyak yang ku harapkan…
Hanya sekedar angan yang akan kusyukuri bila terjadi,
dan takkan kusesali bila tak terjadi…
semua bayangan tentang PARIS selalu membuatku harus bersabar…
mungkin aku memang ditakdirkan untuk tidak mengenal PARIS..
Alloh Subhanahu wata'ala berkata lain tentang angan ini…
Sore itu, tanggal 17 Mei 2009…
Seseorang membawaku ke tempat indah yang romantis..
Aku pikir aku sedang bermimpi melihatnya…
Namun ini nyata… kulihat pantai indah didepan mataku..
Dengan tebingnya yang menjulang tinggi di sudut pantai...
Aku menemukan cinta disana… saat ku nikmati keindahan ciptaan-Nya itu..
Aku hampir tak mampu berucap bahwa aku bahagia dapat kesana, tempat yang dari dulu aku ingin lihat dengan sansetnya yang terhalang awan tak membuatku menyesal melihatnya…
Ya Alloh Subhanahu wata'ala sungguh besar kuasaMu hingga tak mampu kuberkutik mensyukuri nikmat ciptaanMu.. pasir yang hangat… angin yang lembut… dengan deguran ombak yang memaksaku untuk bilang I LUPH PARANGTRITIS…
Mungkin takkan kulupakan kenangan itu…
Tak peduli siapa yang menemaniku kala itu…
Aku bersyukur Alloh Subhanahu wata'ala memberiku kesempatan bertemu dengan Parangtritis…
Terimakasih yawh maz udah mau temani ade ke Paris.. Padahal kita belum kenal dekat… aku hanya tahu namamu dan aku hanya ingin kau tahu aku bahagia mengenalmu… kamu tak pernah melihat aku ini siapa dan dari mana aku datang…
Saat jalan berdua dipantai itu aku tak berhenti memandangmu tajam…
Perasaanku masih melayang mengingat aku sedang ada diparis…
Kebahagiaan yang tak terkira membuatku lupa akan amarah ayah bila tahu aku pergi ke pantai…
Aku tak peduli setelah ini aku nggak boleh main lagi… bahkan bila aku tak diberi uang jajan oleh ayahpun aku tak peduli karena memang sebenarnya aku sudah jarang diberi uang jajan..he..he..
Kurasakan belaian angin parangtrisis menyentuh lembut bulu-bulu tanganku…
Ombak bergerak mengejar berusaha meraih kaki kami…
Dan elang yang menari diudara seolah mengerti kebahagiaan ini…
Saat itu kuingin katakana pada dunia bahwa aku bahagia… aku tak ingin pulang…
Ingin selalu ada untuk menatap indahnya sanset yang mampu kunikmati kala itu…
Namun waktu tak mampu kuhentikan…
Senja berangsur menghilang…
Aku harus pulang ke kostan…
Meninggalkan bayangan yang kini nyata…
Salam perpisahanku denganmu Parangtritis…
Mungkinkah suatu hari kita dapat mertemu lagi…
Dan kan kau ingatkan padaku tentang angin parangtritis kala ini…
Mencoba menerima rayuan ombak untuk tetap berada diParangtritis…
Yogyakarta,
Siti Atikah
Sebentar.. ada bayangan parangtritis yang belum sempurna
Bukan karena katidak indahannya..
Namun karena aku belum mampu mengingatnya..
Ada satu haparan untukku…
Namun aku terbangun dan kembali terucap tanya…
Kapan aku bisa lihat PARIS???
Tak banyak yang ku harapkan…
Hanya sekedar angan yang akan kusyukuri bila terjadi,
dan takkan kusesali bila tak terjadi…
semua bayangan tentang PARIS selalu membuatku harus bersabar…
mungkin aku memang ditakdirkan untuk tidak mengenal PARIS..
Alloh Subhanahu wata'ala berkata lain tentang angan ini…
Sore itu, tanggal 17 Mei 2009…
Seseorang membawaku ke tempat indah yang romantis..
Aku pikir aku sedang bermimpi melihatnya…
Namun ini nyata… kulihat pantai indah didepan mataku..
Dengan tebingnya yang menjulang tinggi di sudut pantai...
Aku menemukan cinta disana… saat ku nikmati keindahan ciptaan-Nya itu..
Aku hampir tak mampu berucap bahwa aku bahagia dapat kesana, tempat yang dari dulu aku ingin lihat dengan sansetnya yang terhalang awan tak membuatku menyesal melihatnya…
Ya Alloh Subhanahu wata'ala sungguh besar kuasaMu hingga tak mampu kuberkutik mensyukuri nikmat ciptaanMu.. pasir yang hangat… angin yang lembut… dengan deguran ombak yang memaksaku untuk bilang I LUPH PARANGTRITIS…
Mungkin takkan kulupakan kenangan itu…
Tak peduli siapa yang menemaniku kala itu…
Aku bersyukur Alloh Subhanahu wata'ala memberiku kesempatan bertemu dengan Parangtritis…
Terimakasih yawh maz udah mau temani ade ke Paris.. Padahal kita belum kenal dekat… aku hanya tahu namamu dan aku hanya ingin kau tahu aku bahagia mengenalmu… kamu tak pernah melihat aku ini siapa dan dari mana aku datang…
Saat jalan berdua dipantai itu aku tak berhenti memandangmu tajam…
Perasaanku masih melayang mengingat aku sedang ada diparis…
Kebahagiaan yang tak terkira membuatku lupa akan amarah ayah bila tahu aku pergi ke pantai…
Aku tak peduli setelah ini aku nggak boleh main lagi… bahkan bila aku tak diberi uang jajan oleh ayahpun aku tak peduli karena memang sebenarnya aku sudah jarang diberi uang jajan..he..he..
Kurasakan belaian angin parangtrisis menyentuh lembut bulu-bulu tanganku…
Ombak bergerak mengejar berusaha meraih kaki kami…
Dan elang yang menari diudara seolah mengerti kebahagiaan ini…
Saat itu kuingin katakana pada dunia bahwa aku bahagia… aku tak ingin pulang…
Ingin selalu ada untuk menatap indahnya sanset yang mampu kunikmati kala itu…
Namun waktu tak mampu kuhentikan…
Senja berangsur menghilang…
Aku harus pulang ke kostan…
Meninggalkan bayangan yang kini nyata…
Salam perpisahanku denganmu Parangtritis…
Mungkinkah suatu hari kita dapat mertemu lagi…
Dan kan kau ingatkan padaku tentang angin parangtritis kala ini…
Mencoba menerima rayuan ombak untuk tetap berada diParangtritis…
Yogyakarta,
Siti Atikah
Langganan:
Postingan (Atom)

